Kehamilan Pada Penderita Epilepsi

Epilepsi merupakan kelainan neurologik, dimana pada ibu hamil membutuhkan tata laksana yang adekuat dan tanpa berisiko baik terhadap ibu maupun janin. Menurut statistik Amerika Serikat, 0.5% kehamilan dijumpai pada penderita epilepsi. Risiko pada penderita epilepsi yang hamil lebih besar dari pada seseorang yang normal dan hamil. Untuk menanggulangi banyak risiko, maka dokter ahli kandungan dan dokter ahli neurologi bekerjasama agar bayi dan ibu mendapatkan kesalamatan jasmani dan rohani. Angka kematian neonatus pada pasien epilepsi yang hamil adalah tiga kali dibandingkan populasi normal. Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi bervariasi. Kira-kira seperempat kasus frekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester terakhir. Seperempatnya lagi menurun dan separuhnya tidak mengalami perubahan selama kehamilan.

Kehamilan penyandang epilepsi berisiko tinggi dan obat anti-epilepsi juga berbahaya bagi janin. Sekitar 25%-33% serangan epilepsi meningkat selama hamil. Disertai kemungkinan komplikasi kehamilan, persalinan dan pada janin.

Frekuensi serangan saat hamil

  • epilepsi pada wanita hamilIbu yang sering mengalami serangan setiap bulan sebelum hamil, frekuensi serangan akan meningkat selama hamil.
  • Ibu yang selama 9 bulan tidak pernah atau hanya sekali serangan, tidak akan mengalami peningkatan selama hamil.
  • Ibu yang 2 tahun bebas serangan, risiko serangan selama hamil menurun atau hilang.
  • Frekuensi serangan meningkat jika mengandung janin laki-laki dan menurun jika janin perempuan.
  • Serangan lebih sering terjadi pada trimester I

Kehamilan memicu serangan epilepsi, dikarenakan:

  • Meningkatkan kadar hormon estrogen dan progesteron pada plasma darah.
  • Perubahan metabolik akibat kenaikan berat badan mengganggu metabolisme obat anti-epilepsi sehingga menimbulkan kejang.
  • Kurang tidur akibat morning sickness, nyeri pinggang atau gerakan janin.
  • Mual muntah pada kehamilan dapat mengganggu penyerapan obat anti-epilepsi.
  • Psikologik (stres dan cemas)
  • Ibu berhenti makan obat karena takut efek obat terhadap janin.

Komplikasi pada kehamilan

  • Perdarahan
  • Mual muntah berlebihan akibat dosisi tinggi pada obat anti-epilepsi
  • Risiko herpes maternal meningkat 6 kali
  • Pre-eklampsia
  • Persalinan caesar
  • Kematian ibu saat serangan.

Efek Pada Janin

  • Lahir caesar
  • Prematur
  • Berat bayi rendah
  • Kurang oksifen (hipoksia)
  • Cacat bawaan
  • Bibir sumbing
  • Kematian janin dalam kandungan ketika atau setelah dilahirkan.

Cara mengatasinya

Penanganan harus terpadu antara dokter kebidanan, dokter saraf dengan dokter anak untuk memantau adanya gangguan perkembangan dan kelaianan janin. Tujuan penanganan adalah mencegah serangan selama hamil dengan minum obat. Namun mengingat banyaknya efek samping obat anti-epilepsi, kadar dan risiko obat harus diperiksa benar-benar. Selain cara diatas, anda juga bisa menggunakan suplemen alami dari jelly gamat gold-g sebagai obat epilepsi tradisional yang aman untuk semua kalangan usia termasuk bagi ibu hamil dan janin.

| Kehamilan Pada Penderita Epilepsi

Artikel Terkait

Komplikasi Pada Penderita Epilepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *