Cara Mendiagnosis Penyakit Epilepsi

Epilepsi adalah terganggunya fungsi otak sementara, secara intermiten (berkala) yang menyebabkan kondisi tubuh mengalami kejang-kejang (seizure) atau kehilangan kesadaran dalam sekejap yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba kapan dan dimana saja serta frekuensinya terjadi berulang kali. Ini dikarenakan tidak normalnya (secara berlebihan) aktivitas pelepasan muatan listrik pada otak (sel saraf). Gangguan abnormal dari aktivitas sel-sel otak ini bila dianalogikan, mirip dengan hubungan pendek arus listrik dan menyebabkan terjadinya perubahan sementara pada perilaku, gerakan, atau kesadaran. Singkatnya, epilepsi merupakan wujud nyata dari aktivitas pelepasan yang berlebihan (tidak normal) dari sel neuron di otak yang menyebabkan kejang, perubahan perilaku serta hilangnya kesadaran penderita.

Pemicu serangan pada penderita epilepsi ini bisa karena rangsangan tertentu (cahaya, suara, sentuhan, suhu panas atau dingin), emosional (stress, banyak pikiran, kelelahan), telat makan, kurang tidur, menstruasi, rendahnya kadar gula darah, dsb.

Cara Mendiagnosis Penyakit Epilepsi

mendiagnosis epilepsi

Peristiwa medis pasien, termasuk juga riwayat kejang anggota keluarga, keadaan medis yang terkait dan pengobatan epilepsi saat ini. Masukan kabar dari beberapa orang yang sudah melihat kejang pasien, terutama bila ada kehilangan kesadaran akan sangat mempermudah dokter. Sangat banyak pertanyaan penting yang bisa jadi ditanyakan ke pasien meliputi:

  • Pada umur berapa kejang dimulai?
  • Apa kondisi di sekeliling kamu ketika kejang awal?
  • Faktor-faktor apa saja yang tampaknya menyebabkan kejang?
  • Apa yang kamu rasakan sebelum, selama, dan setelah kejang?
  • Berapa lama terjadinya kejang?
  • Apakah Anda pernah menjalani perawatan epilepsi sebelumnya?
  • Apa obat yang diresepkan dan berapa dosisnya?
  • Apakah pengobatannya efektif?

2. Tes yang akan dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan fisik dan neurologis lengkap pada kekuatan otot, refleks, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan untuk mendeteksi berbagai sensasi
  • Tes Electroencephalogram (EEG) yang mengukur impuls listrik di otak
  • Studi pencitraan otak, seperti yang disediakan oleh Magnetic Resonance Imaging (MRI)
  • Tes darah untuk mengukur jumlah sel darah merah dan putih, gula darah, kalsium darah, dan kadar elektrolit, dan untuk mengevaluasi fungsi hati dan ginjal. Tes darah membantu menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain.
  • Tes lain dilakukan sesuai kebutuhan, termasuk spektroskopi resonansi magnetik (MRS), tomografi emisi positron (PET) dan perhitungan tomografi emisi foton tunggal (SPECT)

Sektor utama dari proses diagnostik yakni Electroencephalogram (EEG), yang merupakan satu-satunya tes yang secara langsung mendeteksi kegiatan listrik di otak, & kejang didefinisikan oleh gerakan listrik abnormal di otak. Tatkala EEG, elektroda (disk logam kecil) melekat terhadap area tertentu di kepala. Elektroda dihubungkan ke layar bersama dengan tujuan untuk merekam gerakan listrik otak. EEG bermanfaat tidak hanya buat mengkonfirmasi diagnosis epilepsi, tetapi juga buat menentukan kategori epilepsi.

Kebiasaan EEG mencatat cuma kira kira 20 hingga 30 menit gelombang otak (Tapi total prosedur EEG memakan ketika kurang lebih 90 menit). Lantaran diwaktu 30 menit amat sangat singkat, hasil studi EEG teratur paling sering normal, bahkan kepada orang yg ketahuan mempunyai epilepsi. Oleh sebab itu, pemantauan EEG berkepanjangan barangkali digunakan. Sekian Banyak pemantauan mengijinkan pasien utk tinggal di rumah & menambahkan aktivitas normal nya.

Pemantauan video EEG berkepanjangan ialah metode diagnostik lainnya. Sewaktu pemantauan type ini, satu buah EEG mengawasi kegiatan otak & camera merekam aktivitas badan & tabiat sewaktu kejang. Pemantauan berkepanjangan tidak jarang membutuhkan pasien buat menghabiskan ketika di sarana rumah sakit husus tatkala sekian banyak hri. Pemantauan video EEG berkepanjangan yakni satu-satunya trick definitif buat mendiagnosis epilepsi.

Itulah beberapa cara mendiagnosis penyakit epilepsi.

| Cara mendiagnosis penyakit epilepsi

Artikel lainnya:

Penyebab serta pemicu terjadinya penyakit epilepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *